The Sin of Inaction

“Karenanya, diam tak selalu emas. Diam bisa berubah menjadi dosa. Karena dengan diamnya, sesuatu menjadi hancur. Karena dengan diamnya, sesuatu menjadi rusak. Saat itulah kita bisa menyebutnya sebagai the sin of inaction. (dosa karena tidak berbuat apa-apa)” Herry Nurdi

Saya ingin berbagi  dari ilmu yang pernah saya dapatkan saat ramadhan 1433 H. Saya merenungi kisah yang pernah diceritakan oleh mas Farid, seorang alumnus UI dan sekarang menjadi amil di BAZNAS, tentang cerita yang cukup populer di kalangan warga Muhammadiyah mengenai KH Ahmad Dahlan.

Suatu ketika, aktivitas rutin dalam mengisi kajian islam dilakoni KH Ahmad Dahlan bersama para muridnya. Ada yang berbeda dihari itu, beliau membacakan satu surat di dalam Al Qur’an, yaitu Al-Ma’un beserta artinya dan mengulang-ulang pelajaran surat tersebut selama 13 kali pertemuan. Bahkan hingga tidak pernah beranjak kepada ayat berikutnya, meskipun murid-muridnya sudah mulai bosan.

“Ustad, kenapa kita tidak beranjak ke pelajaran berikutnya?” tanya Syuja, salah seorang muridnya yang mulai jenuh. KH Ahmad Dahlan balik bertanya: “Apakah kamu benar-benar memahami surat ini?”.

“Kami sudah memahami benar-benar arti surat tersebut bahkan telah menghafalnya di luar kepala” jawab Syuja

Kemudian KH Ahmad Dahlan bertanya kembali, “Apakah kamu sudah mengamalkannya?”. Dijawab oleh KH. Syuja’, “Bukankah kami membaca surat ini berulang kali sewaktu shalat?”

Para murid itu lantas terdiam ketika KH Ahmad Dahlan menanyakan: “apakah kaliah sudah mempraktekkannya dalam bentuk amalan nyata?”.

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Mereka adalah orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang berguna.” (Al-Ma’un, surat ke-107, ayat: 1-7)

MasyaAllah, barulah para murid memahami bahwa surat tersebut memberikan perintah untuk bergerak dalam bidang sosial. Mulailah para murid itu mencari orang-orang miskin dan anak yatim untuk disantuni dan diperhatikan. Kemudian berlanjut dengan berdirinya Panti-Panti Asuhan dan Rumah Sakit. Awalnya banyak yang menentang gerakan ini, karena dianggap mengadopsi gerakan kolonial belanda, akan tetapi secara perlahan gerakan tersebut menunjukkan perkembangan yang signifikan. Rumah Sakit yang didirikan telah tersebar di seluruh Indonesia.

Sayyid Qutbh menjelaskan bahwa surat pendek ini mampu memecahkan hakikat besar yang menarik benang merah antara iman dan kufur secara total. Orang beriman adalah yang melaksanakan perintah surat tersebut, sedangkan yang kufur adalah sebaliknya, yaitu menelantarkan anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Inilah logika kufur yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Kita dianggap kufur apabila tidak berbuat sesuatu! tidak bergerak, tidak melihat keadaan, dan tidak tersentuh hatinya!. Mereka adalah orang yang berdiam diri dan membiarkan orang sekitarnya kesusahan.

Ada pelajaran besar yang dapat kita ambil dari cerita (baca: sejarah) ini. KH Ahmad Dahlan tahu betul artinya the sin of inaction (dosa karena tidak melakukan apa-apa). Dia membaca dengan jeli pertanyaan sekaligus peringatan Allah dan tidak ingin dilabeli sebagai orang-orang yang mendustakan agama.

Bukankah Rasulullah pernah berpesan sebagai seorang muslim, hendaknya kita senantiasa memudahkan urusan orang lain?, apa yang dapat kita lakukan disaat orang sekitar kita membutuhkan pertolongan?. Pikirkan dan resapi. Sebenarnya banyak yang menuntut kita untuk bergerak hari ini. Lihat saja, Indonesia dengan segala kemakmurannya ternyata belum mampu mengurangi kesenjangan antara kaya dengan miskin, antara berpendidikan dengan yang belum berpendidikan. Semuanya butuh kepedulian dan kontribusi kita. Tentu tidak salah jika kita mulai membiasakan untuk saling peduli dan berbagi.

Karena bergerak merupakan pilihan, tidak bergerak juga pilihan. Yang terbaik adalah yang berusaha untuk menghindari sikap inaction. Semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.Tema: Esquire oleh Matthew Buchanan.

%d blogger menyukai ini: