Tak Ada Pintu Darurat

Jarang sekali orang bisa membedakan antara bekerja sebagai pengabdian dan bekerja sebagai suatu usaha. Seorang pegawai negeri menemui Ustadz Dillah untuk mendapatkan sarana demi mencapai cita-citanya.

“Sarana apa yang harus saya miliki supaya bisa cepat menjadi kaya?” tanya pegawai bersungguh-sungguh.

“Tinggalkan jabatanmu dan berwiraswastalah,” jawab Dillah.

“Tidak mungkin! Itu satu-satunya mata pencarianku,” kata pegawai.

“Itu pengabdian, bukan mata pencarian. Engkau digaji karena mengabdi kepada pemerinah,” jawab Dillah.

“Tetapi banyak pejabat yang bisa menjadi kaya,” bantah tamunya.

“Mungkin saja. Karena ia punya usaha sampingan, sedang engkau tidak. Di dalam kamus pengabdian tidak terdapat kata-kata itu. Bila engkau ngotot memasukkannya, engkau akan menjadi musuh bangsa dan negara,” jawab Dillah.

“Bagaimana mungkin bisa menjadi musuh negara? Saya kan organ pemerintah,” jawab pegawai.

“Di sana tidak ada pintu darurat untuk kepentinganmu selain korupsi,” tegas Dillah.

Mengutip dari buku Lantai Lantai Kota karya Muhammad Zuhri.

Iklan

2 thoughts on “Tak Ada Pintu Darurat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.Tema: Esquire oleh Matthew Buchanan.

%d blogger menyukai ini: