Dan perdamaian itu lebih baik bagi mereka…

Alhamdulillah bertemu kembali.. dalam kesempatan ini, saya mencoba berbagi tulisan tentang bagaimana Allah memberikan pesan perdamaian kepada kita. Sehubungan dengan gugatan dari beberapa negara yang menyatakan bahwa indonesia sekarang bukanlah negara yang damai. Tulisan ini disadur dari buku Menikmati Hidangan Al-Qur’an yang di tulis oleh Aidh Al Qarni tahun 1424 H di Riyadh. Bahasan yang disuguhkan sangat lugas, penuh dengan keindahan sastra, dan pemaknaan yang sangat mendalam. Sehingga benar-benar bisa merasakan keindahan dan kenikmatan dari Al-Qur’an, layaknya menikmati sebuah hidangan makanan. Hmm yummy..

“Dan perdamaian itu lebih baik bagi mereka, walaupun jiwa-jiwa manusia itu menurut tabiatnya kikir” (an-Nisa: 128)

Persengketaan bisa diselesaikan dengan salah satu dari dua cara: putusan pengadilan atau perdamaian. Jika diselesaikan dengan putusan pengadilan maka harus adil dan konsekuen. Tetapi putusan pengadilan bisa meninggalkan dampak yang kurang baik di hati salah satu pihak yang bersengketa. Seperti kita maklumi bahwa kebenaran tidak akan bisa diterima oleh semua pihak. Ada sebuah syair:

Separuh manusia adalah musuh bagi yang menegakkan hukum andai dia berlaku adil

Dengan demikian, menempuh jalan damai adalah lebih baik dan lebih selamat, sebab cara damai didasarkan pada kemurahan hati dan sifat lapang dada. Cara penyelesaian damai ini terjadi dengan sendirinya tanpa keputusan yang dikeluarkan oleh seseorang tetapi dari perangai dan tabiat yang baik. Orang yang berusaha menempuh jalur damai akan dibenarkan, dibantu, dan disenangi oleh banyak orang. Dia dianggap ingin membangun dan mewujudkan kebaikan. Sesuai dengan hal ini, Nabi Syu’aib as pernah berkata:

“Aku tidak bermaksud kecuali untuk mendamaikan selama aku masih berkesanggupan” (Hud: 88)

Nabi Syu’aib memaafkan orang yang telah melukai kehormatannya. Demikianlah jalan damai itu adalah baik dilihat dari sisi manapun.
Tidak ada seorang pun yang menyesal karena ditempuhnya jalan damai itu. Allah akan menghadirkan dalam diri orang yang bersedia diajak berdamai itu kedamaian, ketentraman, sejuknya maaf, dan manisnya sikap pemurah dalam hati. Sebab orang yang mengajak berdamai telah menunjukkan sikap murah hati, sedang orang yang murah hati itu jiwanya besar dan dadanya lapang. Berbeda dengan orang yang menolak jalur damai. Orang ini akan tersiksa oleh luka yang ada didalam dadanya dan nafasnya pun menjadi sesak. Semua ini adalah imbalan yang setimpal dari perbuatannya.

Coba bandingkan hal ini dengan orang yang bakhil, kikir, dan tidak mempunyai perasaan. Orang seperti ini, jiwa dan hatinya sempit, kering, kerontang akibat perbuatannya yang keji. Betapa indahn ungkapan betapa indah ungkapan yang disebutkan kemudian dalam ayat di atas ” Walaupun jiwa-jiwa manusia itu menurut tabiatnya kikir”. Ungkapan itu adalah peringatan bahwa di dalam jiwa manusia ada penyakit yang mengakibatkan seseorang enggan menerima ajakan damai, memaafkan kesalahan, mengalah, dan memberikan sesuatu kepada siapapun. Dalam ungkapan, “didatangi” merupakan gambaran hidup dari selalu hadirnya pengakit kikir yang mengerikan, seolah suatu malam gelap gulita datang dengan jubah hitam kumal dan wajah yang muram.

Disebutkan “jiwa” sebab dia merupakan sumber kebaikan dan keburukan, kedermawanan dan kekikiran. Oleh sebab itu, jika jiwa membisikkan kebaikan, maka seseorang akan bersedia menerima tawaran damai dan berusaha untuk memaafkan. Sebaliknya, barang siapa jiwanya kikir maka akan menyusahkan orang lain dan berusaha untuk memenuhi hak-haknya dengan rakus, tanpa tenggang rasa.

Selanjutnya, pemakaian kata “asy-suhh” (yang diartikan kikir dalam bahasa indonesia) merupakan ungkapan yang sangat bagus. Dalam bahasa Arab kata asy-syuhh berarti luar biasa kikir, lebih luas dari pengertian al-bukhl. Di samping makna enggang mengulurkan tangan untuk memberi, asy-syuhh ini memiliki kandungan makna lain yaitu enggan memaafkan, enggan bersikap toleran, selalu menuntut, mempersalahkan, dan menggugat orang lain. Ibnu Taimiyah mengatakan:

“Orang yang sungguh-sungguh beriman tidak suka menggugat, menghukum, dan menutut”

Justru yang menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjadi pendamai adalah sifat kikir dalam jiwa (asy-syuhh). Siapa yang jiwanya terbebas dari sifat syuhh maka akan hidup sebagai orang yang saleh dan menjadi sumber kesalehan. Dia bagaikan awan, di mana saja berada akan tampak. Selalu bersikap terbuka dalam menghadapi persoalan, mudah memberi maaf setiap terjadi persengketaan, luwes dalam berdebat, dan murah hati. Berbeda dengan orang yang kikir, dia merasa berat untuk mengulurkan tangan, selalu menuntut hal-hal yang sulit, keras kepala, dan perangainya kasar. Mahabenar Allah dengan firman-Nya,

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran darinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (al-Hasyr :9)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.Tema: Esquire oleh Matthew Buchanan.

%d blogger menyukai ini: