Ingin damai? ke Indonesia aja… (3)

Indonesia itu kaya, kaya budaya, kaya kesenian, kaya ras, golongan, dan agama.  Selain itu juga, secara fisik memang kaya, banyak pulau, emas dan minyak yang melimpah, tinggi kekayaan lautnya, begitu juga dgn flora dan faunanya. Ya itulah kenapa dulu Belanda benar-benar ingin menguasainya dengan jargon Gold, Glory, dan Gospel, yang akhirnya setelah kita ketahui memang belanda berhasil meraih Gold dari kekayaan alam Indonesia dan Glory dengan mengambil alih pemerintahan selama 3,5 abad. Akan tetapi tidak banyak media atau literasi yang mengangkat tentang ketidakberhasilan pencapaian tujuan yang ke-3, yaitu Gospel (menciptakan negara dgn tata aturan agama kristen), memang agama kristen masuk dalam jumlah yang besar pada saat itu, akan tetapi penerapannya untuk mengelola negara belum dapat dikatakan berhasil.

Alhasil di Indonesia saat ini berkembang sistem Demokrasi, yang kemudian diyakini dan dapat dirasakan langsung manfaatnya, yaitu kita MAMPU hidup berdampingan antar agama, ras, dan golongan. Karena itu pulalah, kita menjadi bangsa yang lebih cepat pembelajarannya dibandingkan Negara lain baik tingkat Asia maupun Dunia dalam menerapkan norma kehidupan, yaitu KEDAMAIAN.

Namun sangat disayangkan saat ini, banyak kelompok2 yang mengaku Silent Majority (kelompok minoritas yang mengakui memiliki keterwakilan dari suara mayoritas), atas nama Hak Asasi Manusia, Kebebasan, Reformasi kemudian melakukan penuntutan dari hal-hal yang sudah tertata rapih dan tidak dipermasalahkan sebelumnya.. Kasus-kasus ini semakin terkuak ketika melibatkan unsur keagamaan, yang kemudian menggiring pencitraan negatif terhadap ormas2 Islam dan menimbulkan banyak kebingungan (difusi isu).  Kita sebagai warga Negara Indonesia, sudah seharusnya mulai berpikir dan bijak dalam mencerna media, karena media saat ini sudah perang kepentingan, sehingga tidak dapat diserap hanya dalam satu bagian, sudah keharusan bagi kita untuk bisa menganalisisnya secara utuh dan mengikuti terlebih dahulu perjalanannya baru kemudian bisa mengangkat kesimpulan.

Melanjutkan dari tulisan sebelumnya, Indonesia saat ini sangat didiskreditkan akan isu toleransi dalam beragama. Soalnya dari pertemuan UPR dewan HAM PBB di Jenewa itu ternyata banyak negara yang angkat suara tentang Indonesia, ada apa dengan Indonesia? apa yang memang kalian ketahui? Banyak media yang kemudian angkat bicara baik internasional maupun nasional. Berdasarkan beberapa yang saya baca, ada yang mengatakan isu itu timbul dari LSM Indonesia sendiri yang memulai pembahasan bahwa Indonesia tidak toleran. hmm benarkah?

Tentunya tidak bisa dijawab langsung dengan lugas, apakah indonesia memang begitu? karena yang terjadi saat ini adalah semuanya dalam bias informasi. Akan tetapi kali ini saya coba mengutip [lagi] dari pernyataan Menteri Agama kita dari situs Suaraislamonline.com, hehe kerjaannya ngutip mulu. Sepertinya perlu kita memahami secara mendalam, karena beliau adalah orang ke-3 yang menurut Saya turut memprotes hasil UPR di Jenewa itu.

“Saya juga heran, enggak habis pikir, ada lembaga di Indonesia yang memberikan informasi yang jelek-jelek ke luar, padahal informasi yang ia sampaikan itu belum tentu seperti apa yang disampaikan. Tapi kayaknya suatu yang sangat nyaman dan pahlawan kaum minoritas. Sedangkan kaum minoritas itu diperlakukan sama dengan mayoritas. Dan, Anda harus tulis ini, kerukunan beragama di Indonesia terbaik di dunia

“Presiden, Wapres, dan Menag beragama Islam. Idul Fitri tanggal merah dan hari libur nasional, Presiden, Wapres dan Menag merayakan idul fitri. Enggak aneh kan? Terus Natal, tanggal merah libur nasional, Presiden, Wapres dan Menag juga ikut merayakan natal. Hari besar Hindu, Budha Konghucu juga libur nasional. Presiden, Wapres dan Menag juga ikut merayakan, Tunjukkan kepada saya, negara mana di belahan dunia ini yang seperti itu? Mereka cerewet doang. Kita Paskah aja libur kok, kenaikan Isa Almasih libur. Coba negara mana yang ribut-ribut soal agama di Indonesia melebihi Indonesia? Enggak ada”

“Rasanya nikmat, nyaman betul memberikan informasi negatif tentang Indonesia yang informasi itu belum tentu seperti itu adanya. Misalnya, GKI Yasmin. Yasmin pasti masuk tuh dalam laporan itu. Itu soal IMB. Lagi-lagi IMB bawa ke ranah hukum. Masjid di Jalan Talang, namanya Baitul Makmur itu enggak pernah jadi acuan. Enggak pernah dilihat dan dilaporkan ke sana. Masjid itu punya Ketua pengurus wilayah NU DKI Jakarta, orang Betawi sekarang menjadi Menteri Perumahan Rakyat. Masjidnya, sampai sekarang enggak dapat izin. Gubernurnya orang Betawi, orang Islam dan NU. Kok enggak dapat? Ini enggak ribut,”

“Jangan mengutik-ngutik yang sudah bakulah, atas nama kebebasan. Pembela kaum minoritas. Coba selediki di negara-negara lain bahkan di Amerika Serikat, umat Islam bikin masjid bebas enggak? Di Jerman bebas enggak? Jangan mendeskriditkan negara sendiri,”

Bagaimana kawan? yang menarik adalah Menteri Agama kita sempat menyinggung tentang LSM Indonesia yg menjual isu ini, ditulisan itu pula, LSM itu adalah Human Right Watch (HRW) Indonesia, LSM ini diyakini yg sebagai LSM Liberal oleh media itu.. Hmm.. baiklah..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.Tema: Esquire oleh Matthew Buchanan.

%d blogger menyukai ini: