Lulus…

Lulus, dapat SKL, skripsi udah di LSI.. kemudian singing:

Jatuh cinta (baca: nyusun skripsi) berjuta rasanya.
Dipandang dibelai amboi rasanya.
Nyusun skripsi berjuta indahnya.
Tertawa menangis karena nyusun skripsi
Oh asiknya… 🙂

Iklan

Kami dan LSI…

Oh LSI…
Kulihat banyak sekali manusia dirumahmu…
Ada yang cari-cari skripsi, tesis, disertasi…
atau hanya sekedar akses internet dan buka FB…

Oh LSI…
Kudengar banyak yang membutuhkanmu…
Ada yang datang rame-rame, ada juga yang sendiri…
Ada yang jadikan engkau naungan untuk diskusi…
namun ada juga yang sekedar menghibur diri…

Oh LSI…
Engkau teduh, tenang…
Siap menjawab semua tanya..
Siap sedia kebutuhan mahasiswa…
Tak banyak menuntut..
asal buku pinjaman dibalikin sesuai waktu..

Oh LSI…
kutahu.. engkau lah saksi itu…
Saksi perjuangan kami…
Saksi rangkaian tulisan kami…
Saksi untuk kami meneguhkan jiwa…
Untuk melepas diri dari kampus ini…

*Lembaga Sumberdaya Informasi (LSI) itu adalah perpusnya IPB…

Inilah caranya.. mo hapal quran (2)

Memang ya.. Allah itu tau aja klo hambaNya lagi pengen sesuatu.. alhamdulillah setelah baca postingan dari Fajar Shidiq Al Afghani, semakin terbuka jalan untuk memulai hapalan.. apal2 dikit lumayan lah :D.

Alhamdulillah lagi dapat postingan dari Sarah Tsaqofah.. isinya lebih ke dasar mengapa kita harus menghapal al-Quran. Jika tulisan dari fajar itu lebih ke teknisnya, mungkin ini lebih ke filosofinya. Jadi saling melengkapi.. Langsung aja dibaca.. *sekali lagi sengaja di repost, copas, reblog dll. biar mutqin (kokoh) dan ga gampang ilang..

“Menghafal Al-Qur’an itu Semudah Tersenyum…”

 “Sepenting apa sih menghafal Al-Qur’an? Wong baca aja masih nggak bener kayak gini? Yang penting bacaan Qur’an udah cukup buat sholat, at least kulhuwalloh, Al-Falaq sama An-Naas deh, ya nggak? Yang penting ya Qur’an tuh diamalkan.. ngapalin mah nggak perlu, kan udah ada Qur’annya.. buat apa?”

Ustadzku pernah mengajarkan padaku, bahwa keutamaan menghafal Al-Qur’an adalah:

Baca lebih lanjut

Inilah caranya.. mo hapal quran

Dapat tulisan dari Fajar Al Afghani… disimpan di blog biar ga ilang..

Bismillahirrahmanirrahim,,
“Cara Praktis Menghafal Al-Qur’an”

Misalnya saja jika kita ingin menghafalkan surat an-nisa, maka kita bisa mengikuti teori berikut ini:

1- Bacalah ayat pertama 20 kali:
2- Bacalah ayat kedua 20 kali:
3- Bacalah ayat ketiga 20 kali:
4- Bacalah ayat keempat 20 kali:

5- Kemudian membaca 4 ayat diatas dari awal hingga akhir menggabungkannya sebanyak 20 kali.

6- Bacalah ayat kelima 20 kali:
7- Bacalah ayat keenam 20 kali:
8- Bacalah ayat ketujuh 20 kali:
9- Bacalah ayat kedelapan 20 kali:

10- Kemudian membaca ayat ke 5
hingga ayat ke 8 untuk menggabungkannya sebanyak 20 kali.

11- Bacalah ayat ke 1 hingga ayat ke
8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.

Demikian seterusnya hingga selesai
seluruh al Quran, dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, agar tidak berat bagi kita untuk mengulang dan menjaganya.

– BAGAIMANA CARA MENAMBAH
HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA?

Baca lebih lanjut

The Sin of Inaction

“Karenanya, diam tak selalu emas. Diam bisa berubah menjadi dosa. Karena dengan diamnya, sesuatu menjadi hancur. Karena dengan diamnya, sesuatu menjadi rusak. Saat itulah kita bisa menyebutnya sebagai the sin of inaction. (dosa karena tidak berbuat apa-apa)” Herry Nurdi

Saya ingin berbagi  dari ilmu yang pernah saya dapatkan saat ramadhan 1433 H. Saya merenungi kisah yang pernah diceritakan oleh mas Farid, seorang alumnus UI dan sekarang menjadi amil di BAZNAS, tentang cerita yang cukup populer di kalangan warga Muhammadiyah mengenai KH Ahmad Dahlan.

Suatu ketika, aktivitas rutin dalam mengisi kajian islam dilakoni KH Ahmad Dahlan bersama para muridnya. Ada yang berbeda dihari itu, beliau membacakan satu surat di dalam Al Qur’an, yaitu Al-Ma’un beserta artinya dan mengulang-ulang pelajaran surat tersebut selama 13 kali pertemuan. Bahkan hingga tidak pernah beranjak kepada ayat berikutnya, meskipun murid-muridnya sudah mulai bosan.

“Ustad, kenapa kita tidak beranjak ke pelajaran berikutnya?” tanya Syuja, salah seorang muridnya yang mulai jenuh. KH Ahmad Dahlan balik bertanya: “Apakah kamu benar-benar memahami surat ini?”.

“Kami sudah memahami benar-benar arti surat tersebut bahkan telah menghafalnya di luar kepala” jawab Syuja

Kemudian KH Ahmad Dahlan bertanya kembali, “Apakah kamu sudah mengamalkannya?”. Dijawab oleh KH. Syuja’, “Bukankah kami membaca surat ini berulang kali sewaktu shalat?”

Para murid itu lantas terdiam ketika KH Ahmad Dahlan menanyakan: “apakah kaliah sudah mempraktekkannya dalam bentuk amalan nyata?”.

Baca lebih lanjut

Mundur sajalah…

Abraham Samad.. Mundur sajalah dari KPK…
Namanya juga demokrasi…
Siapapun bisa korupsi lantaran gampang mainin birokrasi..
Namanya juga demokrasi…
Siapapun bisa aksi untuk membela yang ngasih..
Namanya juga demokrasi..
Siapapun bisa dihabisi lantaran sok suci..

haha begitulah demokrasi
Mau makan nasi aja mesti kaya dulu…
Mau make dasi mesti bayar dulu..
Mau jujur ya disepak dulu..
Mau taat beragama ya dikasih, asal ga obok2 pemerintahku..

hehe.. ya mad. mundur sajalah dari KPK..

siapapun bisa cuap-cuap walau hanya sekedar basa-basi
Namanya juga demokrasi..

Tawuran Elit

The KPK vs POLRI

Terinspirasi dari acara hiburan wayang di “Indonesian Lawyer Club” TVOne beberapa hari yang lalu. Tawuran ternyata tidak lepas dari perilaku para elit di negara ini. Mereka pun menunjukkan sikap yang kurang baik dan terus-terusan disorot media. Mungkin terasa aneh ketika kita shock melihat tawuran pelajar yang berdarah. Padahal lebih jauh dari itu, tawuran yang ditunjukkan oleh para elit selalu dipertontonkan, dan seperti biasa, reaksi masyarakat datar-datar saja (flat). Seperti kata Jim Rohn “Attitude drives actions, actions drives results, Results drive lifestyle”

Dan mesir, turki, iran dan arab saudi pun bergabung…
#saveoursuriah…

Bagaimanapun nyusun SKRIPSI sambil bekerja..
Thats all HOAX.. gag banyak yang benar-benar mampu menjalankannya

Quote from Ahmad Lucky Ramdani

Kalau Mampu, Jika Tak Mampu….

Maka, jika kau mampu, jadilah lampu besar yang benderang. Memberi sinar dan mengusir kegelapan, bahkan bercahaya menampakkan pemandangan. Kau buat sekitarmu, menikmati terang dan tak dirundung pekat kegelapan.

Tapi jika kau tak mampu, tak mengapa. Jadi saja lentera kecil, meski sinarnya temaram tapi itu berguna untuk dirimu agar tak sesat di tengah kegelapan. Mungkin tidak seterang lampu besar, mungkin tidak sebenderang sinarnya, tapi lentera itu insya Allah menjagamu agar tak dirundung kegelapan.

Jika kau tak mampu menjadi besar, tak mengapa. Jadi kecil saja, mandiri, tak menjadi beban, dan tak pula menjadi penghalang. Itu pun, cukup sudah, di ujung perjalanan kita akan bertemu sebagai orang-orang yang dipersatukan dalam kebaikan. Insya Allah. Amin!

Begitulah kutipan dari tulisan Ustad Herry Nurdi… di penerang.com
Ada dorongan kerinduan kepada ustad ini, entah kenapa langsung kepengen searching di google. Dulunya memang sempat melihat beliau ngisi Kajian Subuh di Bank Indonesia, tepatnya saat 25 ramadhan 1433 H kemarin.

Bisa dikatakan, itu pertemuan pertama yang membuat saya langsung simpatik. Selama menjadi pembicara, baru pertama kali saya melihat ustad mengisi di masjid dengan memakai LCD, Laptop, dan sembari mengeluarkan Samsung Galaxy Notenya untuk menampilkan Video di Youtube kepada hadirin semuanya. Secara saya yang memang orangnya juga interest sama gadget dan teknologi.

Baca lebih lanjut

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.Tema: Esquire oleh Matthew Buchanan.